JKTBDGPP



“Jakarta-Bandung Pulang Pergi” was initiated by ten young artists from Bandung and Jakarta, Indonesia. Five artists from Jakarta: Ary Buy Shandra, Aditya Rahadi Pratama, Andi Rharharha, Rege Indrastudianto, and Ritchie Ned Hansel, joined Ageng Purna Galih, Dave Syauta, Billi Anjing, Diandra Galih R., and William Wahyu Waluyo from Bandung with the aim to express their perspectives on the relations between the two cities. They exhibited their artworks at CCF Bandung on mid-July, 2011.

Seven young extraordinary artists from various disciplines of arts participated in the second exhibition held in Jakarta on November, 2011, thus make it merrier. They are Ykha Amelz, Ricky "Babay" Janitra, Ario Kiswinar Teguh, Lutfi Anwar Noor, Sir Dandy Harrington, Adityo Cahyo Saputro and Saleh Husein.

jktbdgpp@gmail.com
 

happy new year 2012



have a glorious year ahead, lovely happy people!



how sub-cult reviewed jktbdgpp



ritchie's
“…this art exhibition in particular, is inspiring in so many ways. 16 artists from Jakarta and Bandung were gathered for this Jakarta-Bandung Pulang Pergi exhibition. Each of them made something out of what they feel, they see, they think of when it comes to Jakarta – Bandung.”

aditya's

william's

all images were taken from http://sub-cult.com/daily-cult/jktbdg.html



PP

ini adalah pengantar untuk pameran jakarta-bandung pp di dia.lo.gue artspace. seneng banget bisa ikut merespon pameran yang temanya menyenangkan ini =d


pulang dan pergi sama-sama diawali huruf “p”. pada singkatannya yang konvensional – pp – mereka dapat bertukar-tukar. ucapan “selamat datang” dan “selamat tinggal” yang menumpu tolakan mereka pun demikian. ada hubungan yang menarik antara pp alias tektok; kegiatan pulang-pergi yang biasanya dilakukan hanya dalam satu hari.

bandung dan jakarta adalah kota yang memungkinkan ke-pp-an itu. berbondong-bondong warga bandung datang ke jakarta untuk mengejar mimpinya. sebaliknya, warga jakarta balik memadati bandung untuk tidur dan bermimpi.  jarak tempuh merupakan kesadaran pendek yang melanggengkan dongeng tak tertulis di antara keduanya. dan kita selalu menjadi pencerita atau yang diceritakan dalam potongan-potongan mimpi dan kesadaran tersebut.

the fundamental things apply,
as time goes by…*

waktu melata sesuai hakikatnya. kota berkembang dan bertumbuh mengikuti tuntutan kala. jakarta dan bandung semakin tak bisa berdiri sendiri-sendiri, semakin saling membutuhkan. maka, diciptakanlah berbagai fasilitas yang membuat keduanya kian rekat. tol cipularang memangkas jarak tempuh yang direntang puncak dan subang. maraknya travel dengan berbagai pemberhentian praktis memungkinkan kita berangkat dari mana saja dan tiba sedekat mungkin dengan tempat yang dituju.

saya adalah salah satu warga bandung yang turut ambil bagian dalam kemeriahan pp  jakarta-bandung. bagi saya, bandung masih menjadi kota yang membuat saya produktif secara tulus, sementara jakarta adalah kota yang tahu bagaimana mengasuh hasil produksi saya. untuk memenuhi kedua kebutuhan ini, ber-pp rialah saya. karena baik jakarta maupun bandung merupakan dongeng dan mimpi yang terkadang absurd, ada kalanya selintas saya merasa ada di bandung ketika sedang berada di jakarta atau sebaliknya. tetapi dalam setiap kesadaran pendek yang direntang jarak tempuh, saya selalu tahu dengan pasti ke kota mana saya pergi dan ke kota mana saya selalu pulang. sebab pada dasarnya, semirip apapun, bandung dan jakarta berdegup dengan jantungnya sendiri-sendiri.

it’s still the same old story
a fight for love and glory
a case of do or die…*

kendati kota, fasilitas, bahkan jarak tempuh antara bandung-jakarta terus mengalami perubahan, “pesan moral” yang disiratkan dongeng tak tertulis dari kedua kota ini bersifat universal. karena itulah pengalaman personal kita — para pencerita dan yang diceritakan dalam potongan-potongan mimpi dan kesadaran kedua kota tersebut — sesungguhnya selalu mempunyai tautan.

enam belas seniman bandung-jakarta lintas media lintas jarak tempuh yang terkumpul dalam pameran jakarta-bandung pulang pergi ini mencoba bercerita melalui karya dan kesaksian pendek mereka. masing-masing membawa kesan personal yang bisa jadi mempunyai kemiripan dengan kesanmu sendiri. ageng purna galih dari bandung, misalnya merasa menemukan gambaran-gambaran fiksi dalam lintasan pp jakarta-bandung. sementara ritchie ned hansel dari jakarta melihat tarik menarik antara gemerlap kedua kota tersebut sebagai jebakan serupa jebakan kawat nyamuk. bagimu sendiri, apa yang menarik dalam fenomena jakarta-bandung pp?

waktu terus melata, mungkin akan belajar berjalan, bahkan akhirnya mampu berlari. kebutuhan terus bertambah dan bertumbuh. bandung dan jakarta bisa jadi akan semakin rekat. lalu, masihkah kelak mereka berdegup dengan jantung mereka sendiri-sendiri?

no matter what the future brings,
as time goes by…*

sundea

*dicuplik dari lirik lagu as time goes by,  soundtrack film “casablanca”.

our hours were numbered. boriz mcbravo, a friend of dave syauta and of course that made him our friend as well, captured the jktbdgpp exhibition opening’s eve.

thanks so much, buddy!

some shots taken by hermawan tanzil from dia.lo.gue during the opening night of jktbdgpp exhibition.

the exhibition is still ongoing until december 31st. we’ll see you there, fellas!

Cinta Pada Selembar Kertas

oleh Degina Juvita [satulingkar.com]

 
Kertas sangat bermanfaat dalam kehidupan— baik untuk menulis atau menggambar, mencetak atau membungkus. Bahkan, sebagai mata uang hingga dijadikan tisu yang selalu terbuang. Hampir semua kegiatan manusia memerlukan kertas. Namun sadarkah kita, sudah berapa banyak sampah kertas yang terbuang? 
 
Besarnya kebutuhan manusia pada penggunaan kertas, membuat lonjakan produksi kertas semakin tinggi. Kondisi ini memperburuk lingkungan dengan tumpukan sampah. Ario Kiswinar, pencinta kertas, menyadari begitu pentingnya keberadaan kertas dan harus diimbangi dengan rasa cinta terhadap kertas.
 
Ia lantas menggerakkan orang-orang yang mencintai kertas, kemudian menggagas  Komunitas Pecinta Kertas atau disingkat KPK. Kis begitu sapaan akrabnya, ia ingin kehadiran kertas tidak lagi menjadi sampah yang sia-sia. Alumnus jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Trisakti, 2008 lalu ini, menyadari arti penting selembar kertas. “Berawal  ketika saya sudah merasa jenuh membuat karya gambar, akhirnya dengan berbagai riset dan percobaan, saya memutuskan untuk membuat patung kertas,” kata lelaki berzodiak Taurus ini.
 
Ia mencipta patung kertas sebagai tugas akhir saat sidang kelulusannya di Universitas Trisakti. Kis, tidak ingin ide-ide karyanya berhenti sampai di situ. Pada 11 September 2008, ia mendirikan Komunitas Pencinta Kertas. Komunitas ini  beranggotakan anak-anak muda kreatif yang aktif berkarya menggunakan medium kertas. 
 
Karya-karya unik mereka seperti seni instalasi sepatu raksasa, dihadirkan dalam pameran benda seni “Jakarta Bandung Pulang Pergi” di dia.lo.gue.artspace, Kemang, Jakarta. Seni instalasi berlangsung 26 November hingga 31 Desember.
 
“Pesan utama yang  ingin saya sampaikan sederhana. Saya ingin kertas bisa kembali ke posisi sepantasnya. Selama ini, sisa-sisa kertas terkesan diremehkan dan dibuang sia-sia. Saya ingin masyarakat kembali mencintai kertas dengan segala fungsinya,” ungkap Kis dengan optimis.
 
Tidak jarang ia menghadapi celaan dan kontra dari beberapa pihak. Namun Kis dan kelompoknya KPK, tak patah arang, terus berkarya. Komunitas ini percaya bahwa mencintai kertas akan membuahkan hasil yang legit, baik bagi kelestarian lingkungan sekaligus generasi di masa depan.
=================
thanks for the coverage, degina =]

ario kiswinar teguh. 2011. bolak-balik. paper object for jktbdgpp.